Jumat, 6 Februari 2026, Murid murid yang beragama Kristen melaksanakan kegiatan Jumat rohani. Doa secara hikmat dan dilanjutkan dengan ceramah dengan tema Panggilan Hidup yang Berbuah.


Sebelum langit dan bumi terentang, sebelum sejarah manusia dimulai, sebuah pilihan kekal telah dibuat. Bukan oleh kita, melainkan oleh Sang Pencipta sendiri. Tuhan telah memilih kita untuk percaya dan menerima keselamatan—sebuah anugerah yang murni, cuma-cuma, dan tidak berdasarkan prestasi atau kelayakan kita. Kesadaran ini seharusnya mengubah seluruh cara pandang kita terhadap hidup.
Firman Tuhan dalam Yohanes 15:16 menegaskan hal ini dengan jelas:
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap…”
Jika keselamatan adalah anugerah, maka hidup kita setelah menerimanya adalah respons. Respons berupa syukur yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebagai orang yang telah diselamatkan, kita dipanggil untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda—cara yang mencerminkan kasih dan kemurahan yang telah kita terima.
Tiga Panggilan Hidup sebagai Ucapan Syukur
Pertama. Hidup dalam Pelayanan dan Kasih
Anugerah keselamatan mengalirkan kasih yang seharusnya terus mengalir kepada sesama. Melayani bukan sekadar kewajiban, tetapi ekspresi syukur. Di manapun kita berada—di sekolah, rumah, komunitas, atau tempat ibadah—pelayanan adalah cara kita membagikan kasih yang telah kita terima.
Kedua. Hidup dalam Ketaatan dan Kesetiaan
Ketaatan bukan beban, melainkan bukti hubungan. Seperti seorang anak yang taat karena mengasihi orang tuanya, kita taat karena mengasihi Dia yang lebih dulu mengasihi kita. Kesetiaan dalam menjalani panggilan sehari-hari, sekalipun tidak mudah, adalah wujud komitmen kita pada pilihan-Nya.
Ketiga. Hidup yang Menghasilkan Buah yang Kekal
Tuhan tidak hanya memilih kita untuk diselamatkan, tetapi juga untuk berbuah. Buah itu bisa berupa:
Buah Roh (Galatia 5:22–23): karakter ilahi yang tumbuh dalam diri kita. Buah pelayanan: hidup yang menjadi berkat dan membawa orang lain mengenal kasih-Nya.
Tujuan akhir dari semua ini adalah kemuliaan nama Tuhan. Ketika hidup kita berbuah, ketika kita mengasihi dan melayani dengan tulus, orang lain akan melihat dan memuliakan Bapa di surga.
Refleksi untuk Kita Semua
Dalam kesibukan dan rutinitas—bahkan dalam kegiatan rohani seperti ibadah, persekutuan, atau saat teduh—mari kita bertanya: Apakah hidup saya hari ini benar-benar mencerminkan rasa syukur atas anugerah keselamatan? Di area mana saya dipanggil untuk lebih setia dan taat? Buah apa yang Tuhan inginkan untuk saya hasilkan dalam fase hidup saat ini?
Keselamatan bukan akhir perjalanan. Itu adalah awal dari hidup yang bermakna—hidup yang berbuah, berdampak, dan memuliakan nama-Nya.
“Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.” (1 Petrus 1:15)
Hidup kita adalah jawaban atas panggilan-Nya. Mari jalani dengan syukur, setia, dan penuh buah.
Ditulis oleh : Aira Radika Aliratunisa X DKV 5



