Semarang, Jumat, 7 November 2025. Gema parita suci berkumandang di cetya Widya Dharma SMK Negeri 11 Semarang. Meskipun hanya ada 2 siswa yang beragama Buddha, Pradita kelas XII DKV dan Nova kelas X Teknik Grafika dari 1700 siswa yang ada di SMK N 11 Semarang, mereka berdua mendapatkan kemerdekaan untuk melaksanakan Puja Bhakti pagi di cetya yang kecil namun sangat representatif untuk melaksanakan kegiatan beribadah siswa yang beragama Buddha di sekolah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pihak sekolah di bawah kepemimpinan Ibu Im’roatul Azizah, S.Pd., M.Pd mengedepankan pada terciptanya sekolah yang toleran dan inklusif. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa terus ditegakkan. Setiap hari Jumat, SMK N 11 Semarang menyelenggarakan tiga kegiatan yakni Jumat Rohani, Senam kesegaran jasmani dan jumat bersih. Ketiga kegiatan tersebut dilakukan bersamaan dengan peserta yang bergantian.
Pagi ini, di Cetya Widya Dharma, dua siswa yang beragama Buddha melaksanakan puja bakti dengan melantunkan parita suci: Namaskara gatha, Vandana, Tisarana, Pancasila, Buddhanusati, Dhammanusati dan Sanghanusati. Parita-parita suci tersebut dilantunkan dengan indah untuk memuja kepada Tri Ratna yakni Buddha, Dhamma dan Sangha. Mereka juga mengukuhkan tekad untuk berlindung kepada Tri Ratna dan memurnikan tekad menjalankan silla, yakni bertekad melatih diri menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berkata salah dan mengkonsumsi zat-zat yang melemahkan kesadaran. Usai puja bakti, mereka melaksanakan meditasi. Selama 15 menit, mereka berlatih anapanasatti, yakni meditasi dengan objek pada keluar masuknya nafas. Proses ini bertujuan untuk mencapai ketenangan batin.
Usai kegiatan puja bakti dan meditasi, dilanjutkan dengan diskusi dhamma. Dhamma kali ini membahas tentang hukum karma atau kamma. Kamma merupakan suatu perbuatan baik atau tidak baik yang diawali dengan kehendak atau cetana. Kali ini yang dibahas tentang karma penghancur. Dari sebuah kisah tentang Bhante Cakupala yang di saat mencapai arahat, beliau mengalami buta di kedua matanya, setelah melakukan latihan keras sebagai bhikku (dutangga). Namun apa yang membuat kedua matanya buta, Buddha memberikan penjelasan bahwa di masa yang sangat lampau, ada seorang dokter mata yang menerima pasien miskin. Karena tidak memiliki biaya, pasien tersebut berjanji, jika matanya sembuh akan menjadi pelayan dokter tersebut beserta anaknya. Pasien tersebut sembuh, namun ia berbohong bahwa dirinya belum sembuh karena ia tidak ingin menjadi pelayan. Dokter tersebut tahu bahwa pasien tersebut berbohong sehingga ia memiliki niat untuk mencelakai pasien tersebut karena tidak terima bahwa pasien tersebut berbohong dan ingkar janji padahal sudah ditolong. Pasien tersebut akhirnya diberi obat yang sebenarnya adalah ramuan yang bisa membuat buta total. Pasien tersebut akhirnya buta dan pada kehidupan berikutnya, dokter tersebut terlahir kembali menjadi Bhikku Cakkupala. Cerita tersebut sebagai contoh bahwa kamma masa lalu berbuah dan menjadi penghancur mata bhikku tersebut.
Dalam diskusi damma tersebut dibahas pula tentang Bhante Maha Monggalana. Bhante tersebut memiliki kesaktian dan termasuk murid Buddha yang unggul. Pada akhir kisah, Bhante Maha Monggalana akan dibunuh oleh sekelompok orang. Hari pertama sampai hari keenam, Bhante Maha Monggalana bisa lolos dari aksi pembunuhan tersebut. Karena kesaktiannya, beliau bisa meloloskan diri dari kepungan para pembunuh tersebut, namun pada hari ke tujuh, kesaktiannya habis dan ditangkap, dipukuli, dianiyaya hingga mendekati kematiannya. Saat mendekati kematiannya, kesaktiannya muncul kembali, sehingga bisa terbang dan menghadap Buddha dan karena kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan, Bhante Maha Monggalana minta ijin ke Buddha untuk parinibanna. Proses hilangnya kesaktian Bhante Maha Monggalana tersebut ternyata kamma masa lalu yang sangat panjang masih berbuah. Pada kehidupan yang sangat panjang sebelumnya, ada seorang anak yang membunuh orang tuanya dengan mengurungnya di karung dan dibawa ke hutan. Seseorang tersebut mengaku bahwa dirinya perampok dan memukul, menganiyaya orang tuanya hingga meninggal. Meskipun sudah pernah tinggal di alam neraka, dan akhirnya bisa lahir di alam manusia dan menjadi Bhante Maha Monggalana, ternyata kamma masa lalunya masih berbuah di kehidupan saat itu. Kesaktiannya hilang karena ada kamma penghancur di masa lalu.
Usai berdiskusi damma, mereka melanjutkan dengan melantunkan parita etavata yang isinya adalah sebuah doa untuk SMK N 11 Semarang dan negeri ini.





