
Membaca buku merupakan pintu gerbang masuknya pengetahuan, namun untuk membiasakan murid membaca membutuhkan effort yang tinggi. Musuh terbesarnya adalah tsunami media sosial, sehingga murid tidak tahan untuk membaca dalam waktu lama. Mereka cenderung mengkonsumsi informasi-informasi yang pendek. Ketika murid-murid saya tawari untuk membaca buku-buku yang disediakan di perpustakaan jurusan animasi, ternyata mereka lebih memilih buku-buku yang tipis. Mungkin ini belum terbiasa saja, sehingga untuk sementara ini biarlah mereka membaca buku-buku yang tipis, yang terpenting mereka menikmati terlebih dahulu.
Mulai semester genap tahun 2026, setiap murid di jurusan animasi SMK N 11 Semarang memiliki kewajiban membaca buku sebanyak 10 buku. Proses ini tidak langsung bisa berjalan lancar, sehingga butuh program yang memaksa untuk membaca serentak. Program tersebut disebut dengan Pustaka Waca yang artinya membaca pustaka atau buku. Sebelum pembelajaran produktif, setiap murid wajib membaca buku dan presentasi di hadapan guru. Dokumentasi saat presentasi dan rangkuman hasil bacaan wajib dikirim ke link yang sudah disediakan sehingga menjadi nilai softskill.
Pada hari ini, Rabu, 4 Februari 2026 di ruang digital prosesing, usai melaksanakan mindfulnesa, pengambilan tekad menjalankan kesusilaan dan ikrar pelajar Indonesia, saya bagi satu satu buku komik Jataka. Proses inilah, memaksa murid untuk membaca, dan dilanjutkan dengan presentasi.




