Imajinasi, kreatifitas tidak mungkin optimal ketika tidak dilandasi budaya literasi. Rendahnya literasi menjadi keprihatinan saya di dunia pendidikan. Untuk itu upaya literasi menjadi salah satu konsen saya dan masuk di program pembelajaran di Animasi. Upaya yang dilakukan adalah memasukkan program wajib membaca buku fiksi maupun non fiksi minimal 10 buku dalam satu semester. Setiap murid wajib mempresentasikan di hadapan guru usai membaca buku. Cara sederhana ini dilakukan agar budaya literasi terus tumbuh.
Proses ini tentu butuh dukungan dari sekolah. Di bawah kepemimpinan kepala sekolah, Bu Imroatul Azizah, S.Pd, M.Si, budaya literasi ini juga menjadi prioritas dan diberikan alokasi dana untuk pembelian buku-buku fiksi dan non fiksi. Dalam beberapa waktu yang lalu, beliau juga mengajukan proposal permohonan buku kepada Ehipasiko Foundation, dan mendapat respon yang bagus, segera mendapatkan kiriman buku-buku bagus untuk membangun berpikir positif.
Mulai hari ini, Kamis, 13 November 2025, perpustakaan jurusan yang ditempatkan Samadi Sala, sudah dibuka pelayanan peminjaman buku dan berliterasi. Ruangan serba guna, paginya untuk kegiatan meditasi, di waktu senggang murid murid animasi dapat membaca. Semoga semakin bermanfaat. Berkah mulia untuk semua. Sabba Danang, damma Danang jinati. Di antara semua pemberian, pemberian ajaran kebajikanlah yang tertinggi. (Penulis: Diyarko)





