Satu untuk Semua

Bersyukur dan bahagia karena kegiatan seminar moderasi beragama dengan tema kerukunan umat beragama bisa terlaksana dengan baik. Rabu, 6 Desember 2023, OSIS Prayatna Maitri SMK N 11 Semarang akhirnya dapat menyelenggarakan kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan. Menurut Pak Fahmi, guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang sudah mengajar selama 12 tahun di SMK N 11 Semarang, baru kali ini diadakan kegiatan seminar moderasi beragama yang menghadirkan narasumber dari berbagai agama yang diikuti oleh perwakilan murid dari berbagai agama pula. Gagasan untuk menyelenggarakan kegiatan ini memang sudah lama, namun baru di akhir tahun 2023 ini kegiatan dapat dilaksanakan. Meskipun baru dapat menghadirkan narasumber dari internal sekolah, namun kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik dan berkualitas. Narasumber kegiatan tersebut adalah Nur Fahmi Arifin, S.PdI (guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti), Diana Rini, A.Md (guru Pendidikan Agama Katholik dan Budi Pekerti), Dra. Neti Herawati (Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekert) dan Daryono, S.AG., M.Si (Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti).  “Daging semua yang disampaikan oleh para narasumber”, ungkap saya ketika memberikan testimoni dari kegiatan tersebut. Dalam forum diskusi tersebut narasumber dengan jelas dan mendalam memberikan penjelasan tentang toleransi dari sudut pandang masing-masing agama, namun setelah ditarik kesimpulan semua narasumber memberikan penjelasan bahwa landasan dari toleransi adalah cinta kasih.

Dalam kegiatan seminar moderasi beragama tersebut ada sesi tanya jawab. Ada satu pertanyaan yang sangat kritis sehingga membutuhkan pemikiran yang mendalam. Salah satu murid sebagai pengurus OSIS Prayatna Maitri memberikan pertanyaan sebagai berikut. “Bapak/Ibu, apabila ada suatu daerah yang hanya tersedia satu lahan yang bisa dibangun satu tempat ibadah saja, sedangkan di daerah tersebut masyarakatnya sangat beragam agama dan keyakinannya. Bagaimana menyikapi hal ini?”. Pertanyaan ini sulit dijawab ketika kita tidak meletakkan toleransi sebagai landasan utamanya. Akhirnya saya mengutarakan pendapat dan gagasan yang sudah lama dalam  terpendam dalam pikiran.

“Menurut pendapat saya, sangat simpel. Kalau saya sebagai pemangku kebijakan di pemerintah, maka saya akan membangun satu bangunan untuk semuanya. Ketika umat muslim akan menyelenggarakan sholat 5 waktu, maka cukup memberikan jadwal sesuai dengan jadwal 5 waktu. Dengan menekan tombol, maka layar backgoround masjid akan muncul dan siap untuk digunakan kegiatan sholat. Usai melakukan kegiatan sholat, para ustad dan jamaahnya membersihkan kembali tempat ibadah tersebut, karena akan digunakan oleh umat agama lainnya. Sesuai dengan jadwalnya, maka umat Kristen maupun Katholik dapat menggunakan tempat ibadah tersebut. Dengan menekan tombol, maka layar gereja akan muncul dan siap untuk kebaktian. Umat Kristen maupun Katholik setelah selesai kegiatan kebaktian maka membersihkan tempat ibadah tersebut karena akan digunakan untuk kebaktian umat lainnya. Sesuai dengan jadwalnya, maka umat Buddha dan Hindu dapat melaksanakan kegiatan puja bakti di tempat ibadah tersebut. Dengan menekan tombol, maka layar Vihara atau Pura akan muncul dan siap untuk puja bakti. Pada waktu tertentu, para pemuka agama berkumpul membicarakan kebersamaan dan keharmonisan di masyarakat tersebut. Begitu harmonisnya, ketika masyarakat meletakan cinta kasih sebagai dasar toleransi, Masyarakat Pancasila benar-benar terwujud”, ungkap saya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin ide saya ini sulit terwujud ketika toleransi masih dalam wacana dan belum sampai pada tataran kesadaran diri untuk merawat toleransi ini.

Kegiatan seminar ini diakhiri dengan sebuah puisi oleh Bu Diana Rini sebagai bahan refleksi untuk kita semua.

Ada orang yang begitu hebat beragama, tapi kemanusiaannya kosong

Ada orang yang begitu hebat dalam beriman, tapi adabnya buruk

Ada orang yang begitu berharta
Tapi tidak begitu peduli kepada orang-orang yang berkelaparan

Jadi untuk apa semua itu kalau hidup tidak memberi manfaat kepada orang lain?

Apakah kita lupa tujuan hidup kita di di dunia ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Agar Semua Murid Terlibat dalam Peka Lingkungan

Apa yang terjadi ketika kegiatan peka lingkungan dilakukan secara serempak untuk sekolah yang memiliki jumlah rombongan belajar yang banyak? Diprediksi akan banyak murid yang kurang melakukan kegiatan peka lingkungan tersebut dengan sungguh-sungguh. Hal ini karena  pengawasan yang relatif sulit ketika dilakukan serempak oleh seluruh kelas. Ada strategi yang cukup efektif dengan membuat jadwal peka lingkungan […]

Puja Bakti dan Diskusi Damma

Jumat, 23 Januari 2026, kerohanian Buddha “Widya Dharma” menyelenggarakan kegiatan puja bakti dan diskusi dhamma. Puja bakti dipimpin oleh Pradita Binda A, murid kelas XII DKV 1. Dalam puja bakti tersebut murid-murid yang beragama Buddha membacakan Parita suci, namaskara, bandana, tisarana, Pancasila, Buddhanusati, dhammanusati, sanghanusati dan sacakiriyagatta. Dilanjutkan dengan meditasi metta bavana. Usai meditasi murid […]

SMK Negeri 11 Semarang Gelar Bhakti Sosial dalam Rangka MPLS, Salurkan Bantuan ke Dua Panti Asuhan

Semarang – Dalam rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025-2026, SMK Negeri 11 Semarang menyelenggarakan kegiatan bakti sosial pada Kamis (24/7). Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian MPLS yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada para peserta didik baru. Tidak hanya berorientasi pada pengenalan lingkungan sekolah, MPLS di SMK Negeri 11 juga […]